Pasangan2

Siapa yang tidak kenal cinta, bukan kebetulan kalau 90% subjek lagu adalah tentang cinta, belum lagi pada film, novel dan puisi. Keberadaan kita di dunia pada dasarnya juga adalah hasil cinta tokh :-)

Namun jika cinta dapat membuat orang begitu bahagia, cinta juga bertanggung jawab untuk sebagian besar kasus sakit hati dan penderitaan (jiwa), sama hal nya seperti peperangan. Loh, kenapa begitu? Dan yang paling penting, mesti kah begitu jalannya?

Saat kita mencintai seseorang dan orang itu tidak memiliki perasaan yang sama, kita sakit hati. Saat sebuah hubungan terputus karena suatu masalah, kita sakit hati. Saat kita mempercayai seseorang dan orang tersebut mengkhianati nya, kita sakit hati.

Jika dirunut-runut, semuanya balik lagi ke masalah keinginan. Kita ingin (atau paling tidak berharap) bahwa seseorang akan membutuhkan kita seperti halnya kita membutuhkan orang tersebut, sayangnya itu tidak selalu terwujud. Rasa sakit juga disebabkan karena pada dasarnya cinta membutuhkan kita untuk menaruh kepercayaan terhadap seseorang, dan ini menempatkan hati kita pada posisi yang amat rawan untuk merasa sakit. Dari sana bisa disimpulkan, bahwa memang kepercayaan adalah hal tersulit (dan paling esensial) dari cinta.

Bicara tentang kepercayaan berarti kita bicara tentang konsekuensi, jika kita memberi kepercayaan, ada resiko kita dikhianati. Tapi jika kita tidak memberi kepercayaan, bagaimana kita bisa menikmati suatu hubungan. Kurangnya rasa percaya bisa mengebiri rasa cinta, seperti membangun benteng yang membuat rasa cinta tidak berkembang. Dengan kata lain, kita mengkhianati hati nurani kita sendiri.

Sekarang kita kembali ke definisi cinta, salah satu yang terbaik menurut saya adalah versi Robert Heinlein, “Cinta adalah suatu kondisi dimana kebahagiaan seseorang menjadi esensial untuk kebahagiaan kita sendiri“, mungkin memang benar. Banyak dari kita mengetahui betapa menyakitkannya melihat orang yang kita cintai tidak berbahagia, sementara tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu nya.

Tapi, segera saya sadar definisi itu adalah rancu. Jika begitu definisinya, maka kebanyakan orang tua kita adalah ‘master’ nya. Ibu selalu tahu apa yang terbaik untuk anak nya, ironisnya itu tidak selalu benar kan. Banyak juga ayah yang memimpikan siapa anaknya kelak jika sudah besar nanti, lalu kecewa karena sang anak memilih jalannya sendiri.

Umumnya orang kehilangan apa esensi cinta sebenarnya dan menyalahartikan definisi diatas, meraka membentuk target mereka sendiri, yakni melihat pasangannya bahagia. Lalu mereka baik sadar maupun tidak mulai ‘membentuk’ pasangan mereka ke bentuk yang menurut meraka terbaik dan membuat pasangan mereka bahagia, dari hal kecil misalnya komentar gaya berpakaian, hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik dia antara dua manusia yang memang berbeda.

Saat konflik terjadi, ego dan emosi kadang membuat kita tidak memahami apa pemicu yang sebenarnya, kita tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, atau mengapa pasangan kita berubah begitu drastis (dari sudut pandang kita loh). Sebenarnya pemicunya amat sederhana, kita memproyeksikan kebutuhan kita kepada pasangan kita, masalahnya adalah ternyata bukan hal itu yang benar-benar mereka butuhkan atau yang dapat membuat mereka lebih bahagia (seperti harapan mulia kita). Namun biasanya kita tidak menyadarinya, yang kita tahu adalah kita merasa dikecewakan oleh orang yang kita percaya (cintai). Dan disinilah berawal muncul nya rasa sakit hati.

Kesimpulan

Bagaimana kita bisa keluar dari situasi tersebut? Satu-satu nya jalan yang bisa saya lihat adalah dengan menyadari (satu sama lain) bahwa cinta kita untuk seseorang adalah.. ya cinta, tanpa embel-embel. Mungkin terdengar klise ya tapi cinta seharusnya tidak mengandung tuntutan.

Jatuh cintalah dengan sunggguh-sungguh.. namun jangan pernah takut untuk melepaskan. Karena hanya dengan tidak takut untuk melepaskan dapat benar-benar mencintai, tanpa syarat, tanpa embel-embel cengeng. Kita dapat memberikan pasangan kita ruang yang mereka butuhkan untuk benar-benar berbahagia. Kita bisa benar-benar memberi, bukannya sekadar menadahkan tangan.

Cintai pasangan mu setulus hati. Beri. Jangan mengharapkan balasan. Pada akhirnya nanti, cinta dan kebahagiaan akan kembali kepada kamu.

Wira
Jakarta, 15 Juni 2007

Dedicated for my ex girl friend Yuli, thank you Yul untuk ketulusan cinta dan persahabatan kamu selama ini.