Large8800arte

Author: Wira

Seorang teman bertanya, apa persamaan antara CEO sebuah perusahaan dan petani yang tinggal di desa? Saya pun menjawab sekenanya, namun semua jawaban dianggap salah. Dengan penasaran saya pun bertanya, lalu apa jawaban yang benar? Jawabannya, kedua orang tersebut sama-sama tidak mengangkat sendiri ponselnya. Sang CEO mendelegasikan hal tersebut pada asisten nya, sementara sang petani tidak mengerti cara menggunakan ponsel, hingga membutuhkan bantuan anak nya.

Tentu saja, cerita diatas hanya satu dari banyak lelucon yang beredar di masyarakat, namun kebanyakan lelucon sebenarnya juga merefleksikan kondisi nyata kehidupan sosial. Ponsel saat ini bukan lagi barang langka yang membuat pembawa nya merasa spesial seperti pada tahun 90an, produksi massal ponsel dan persaingan tarif antar operator telah memangkas biaya kepemilikan secara signifikan.

Pertumbuhan Pasar Ponsel

Dengan pertumbuhan kepemilikan ponsel paling pesat ketiga di dunia setelah China dan India (Portio Reserch, Januari 2006). Saat ini, sekitar 80 juta penduduk Indonesia memiliki ponsel (Asia Pacific Research  Group, Maret 2008). Ponsel memberikan fleksibilitas bagi manusia untuk bergerak dan tetap terhubung, didukung oleh jangkauan operator yang meliputi wilayah terpencil sekalipun, terbentuklah angka fantastis diatas, fenomena ini sedang terjadi di belahan manapun di dunia ini.

Tinggi nya angka pertumbuhan kepemilikan ponsel juga berkat kejelian produsen telepon membidik berbagai segmen pasar, mulai dari telepon standar dengan layar hitam putih sampai ke PDA-Phone yang sarat fitur, rumah-rumah mode pun tidak mau ketinggalan, ponsel dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan rasa eksklusif pada pemiliknya.

Model dan Fitur-Fitur Ponsel

Sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan data, ponsel saat ini tidak hanya digunakan untuk menelepon saja. Secara garis besar, ponsel dapat digolongkan menjadi empat jenis, ponsel standar, dengan fitur amat standar, tambahannya mungkin ada game-game dua dimensi. Permintaan akan ponsel ini ternyata cukup tinggi karena harga nya yang amat terjangkau. Selanjutnya adalah ponsel multimedia, disini range nya cukup luas, ponsel multimedia lengkap memiliki fitur pemutar musik, radio FM, video dan kemampuan video-call. Sebenarnya cukup rancu untuk mengklasifikasikan ponsel multimedia ini, karena sebenarnya hampir semua fitur multimedia ini juga dimiliki oleh jenis ponsel kelas atas.

Lalu ada jenis ponsel yang amat padat fitur, lazim disebut PDA-Phone atau Smart-Phone, kebutuhan alat asistensi digital dan komunikasi disatukan di jenis ponsel ini, bahkan versi mutakhir dapat menggantikan fungsi laptop karena kemampuan koneksi internet dapat melalui jaringan nirkabel. Terakhir adalah ponsel fashion, dirancang untuk kalangan atas, ponsel ini unggul dari segi desain, material dan tampilan yang amat elegan, secara fitur ponsel ini sekelas dengan ponsel multimedia biasa.

Kebutuhan atau Prestise?

Tidak bisa dipungkiri, komunikasi adalah kebutuhan setiap orang, teknologi komunikasi saat ini memberi andil besar pada berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari interaksi pribadi antar anggota keluarga hingga kolaborasi bisnis global.

Sebagai benda yang bersifat amat pribadi, banyak konsumen yang melihat ponsel bukan hanya sebagai alat komunikasi saja. Seperti halnya mobil, jenis mobil yang dipakai dapat mempresentasikan status sosial ekonomi pemiliknya, namun hebatnya, ponsel tidak ditinggal di tempat parkir seperti hal nya mobil. Gencarnya produsen mengeluarkan model-model baru serta kemudahan memiliki ponsel seperti cicilan 0%, membuat konsumen cenderung konsumtif dan bahkan membeli ponsel diluar batas kemampuannya.

Di Indonesia bahkan ada kecenderungan memiliki dua buah ponsel, operator jaringan CDMA memposisikan jaringan mereka sebagai jalur telepon murah, dengan tarif pulsa ‘setara’ dengan telepon rumah. Namun mobilitas roaming yang terbatas dan kualitas jaringan yang telah mapan membuat jaringan GSM tetap memiliki keunggulan. Saat ini sudah umum seseorang membawa dua buah ponsel.

Semuanya kembali kepada masing-masing pribadi, memposisikan ponsel sebagai alat komunikasi atau merangkap sebagai lambang prestise? Kita bisa memulai dari diri kita sendiri, jika ponsel kita mendukung 3G, seberapa sering kita memanfaatkan video call? Berapa banyak bandwidth yang kita pakai untuk akses data secara mobile dalam satu bulannya, atau malah kita tidak pernah sama sekali memanfaatkan fitur-fitur tersebut?

Tentu hak tiap orang untuk membuat pilihan, sama hal nya saat mereka memilih jenis mobil atau laptop. Satu hal yang perlu diingat, perangkat elektronika dan kendaraan bukanlah seperti rumah atau emas yang harga nya terus meningkat. Pilihlah sesuai kebutuhan dan anda terhindar dari pengeluaran yang tidak perlu, percayalah bahwa anda tidak hanya dinilai dari ponsel yang anda bawa.